• Supplier Pulsa Murah

    Cepat, Murah & Transaksi 24 Jam NonStop !

    Dengan dukungan Teknologi terkini dan Sumber Daya Manusia yang Handal, AMD Network siap menjadi Partner Bisnis Anda . 

    Daftar Documentation

  • Dapatkan kaos JERSEY

    AS Roma 11/12 Home Soccer Jersey

    Member yang berhasil menorehkan 1500 transaksi di bulan Oktober, akan mendapatkan 1 buah kaos AS Roma 11/12 Home Soccer Jersey

    Tingkatkan Transaksi & Dapatkan JERSEY kesayanganmu !

  • Discount Besar !!!

    Pulsa Indie TRI Gold isi 400rb cuma 150rb

    Dengan cuma 150rb dapat pulsa utama 200rb dan pulsa kredit 200rb, jadi total pulsa yang di dapat 400rb . 

    Info Detail

091312_2331_BentengPert1.jpg

Benteng Pertahanan Brawijaya V

Written by admin on . Posted in Semua Kategori

Bisa jadi tak banyak yang tahu bahwa kemajuan peradaban Majapahit juga meninggalkan sisa di Jember, tepatnya di Dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Jember. Seperti apa jejak sejarah kerajaan yang disebut-sebut pernah menyatukan Nusantara itu.

DI sebuah pelataran luas itu, dua pohon beringin besar seolah tertancap kokoh. Di bawahnya, fondasi dengan batu bata besar membujur ke segala arah. Di ujung pelataran tersebut, terlihat sebuah rumah sederhana. Di bagian dinding rumah itu masih tegak berdiri batu bata dengan ukuran sangat besar. Siapa pun tentu mafhum bahwa pelataran itu merupakan komplek peninggalan sejarah . “Daerah ini disebut Beteng. Dan, dari sini nama Dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, berasal. kondisinya saat ini tidak menggambarkan sebuah bangunan benteng pertahanan. Di areal itu hanya terdapat pohon-pohon besar dari sebuah rumah yang ditempati seorang lelaki tua .

Menurut sang juru kunci, daerah itu disebut dengan Beteng. “Ini sisa kejayaan Kerajaan Majapahit. Beteng dalam bahasa Jawa atau benteng dalam bahasa Indonesia ini dibangun oleh Raja Kertabumi atau terkenal dengan sebutan Brawijaya V Konon kala itu Majapahit diserang oleh kerajaan Demak. Penyerangan itu dipimpin Raden Patah yang juga masih anak turun Raden Brawijaya V. Setelah kerajaan Majapahit berhasil dikalahkan, Raja Brawijaya dan seluruh pasukannya lari ke Tengger. Raden patah belum puas dan nekat mengejar Brawijaya sampai ke Tengger. Terus terdesak, Brawijaya lari ke arah timur dan akhirnya masuk ke Jember dan menemukan daerah lapang di daerah ini. Kemudian dia mendirikan benteng pertahanan. elama di tempat tersebut yang tidak lain adalah asal muasal Dusun Beteng, Brawijaya membangun peradababan baru. Dia juga menciptakan sebuah kota yang akhirnya diberi nama Kedawung, yang sekarang menjadi nama sebuah dusun di sebelah utara Dusun Beteng. “Lokasinya tak jauh dari beteng ini. Dan dulunya berfungsi sebagai pasar. Keberadaan benteng ini kian ramai hingga terdengar oleh pasukan Raden Patah. Pengejaran dilakukan. Namun Brawijaya terus berlari hingga masuk ke Blambangan, Banyuwangi. “Seluruh peralatan dan beberapa benda pusaka pun ditinggal di sini. Termasuk bendera merah putih dan bangunan beteng ini. Akibat kalah perang, lokasi ini ditinggal begitu saja. Banyak barang-barang warisan sejarah yang ditinggalkan rombongan Brawijaya V. “Saya berhasil mengamankan barang yang ada. Namun semua berbentuk batu yang gunanya untuk peralatan membuat ramuan jamu. Di tempat itu terdapat banyak peralatan dari batu. Seperti lumpang (alat penumbuk), batu pipisan, gerusan, bengkok (alat pembuat jamu, ) dan serpihan keramik. “Sebetulnya banyak peninggalan. Sisa benteng pertahanan itu, sempat tidak terurus. Setelah itu, benteng kembali ditemukan pada 1908 seorang warga Pagerwojo . Kedatangannya ke lokasi itu sebetulnya bukan untuk mencari situs sejarah Majapahit. Namun nyantrik (berguru, ) ke Markonah, warga Semboro. “Saat itu Markonah tengah menikahkan anaknya. Dan Mat Salam di suruh mencari kayu bakar. Karena di dalam hutan tidak ada kayu yang kering, Mat Salam pun mencari lebih jauh lagi.Sampai kemudian dia menemukan hamparan lahan seluas 2 hektare. Dan di tengah hamparan itu ada sebuah gundukan tanah setinggi 2,5 meter yang tidak lain adalah sisa benteng pertahanan tersebut. Kemudian di dalam gundukan itu terdapat bangunan yang temboknya memiliki tebal 20 cm. Bahan yang digunakan sebagai tembok dari batu bata dengan ukuran 30-55 cm. “Dan batu bata itu masih banyak yang utuh. Lihat di dinding rumah itu,” katanya sambil menunjuk bukti batu bata sisa situs Majapahit. Mat Salam pun akhirnya menjadikan tempat itu sebagai lokasi peristirahatan. Dan, masih cerita Ngadulgani, dia sering menjumpai peristiwa aneh di luar akal manusia. Kemudian setahun kemudian Mat Salam menjadikan lokasi itu sebagi tempat ritual larung sukerto (penyucian benda pusaka di situs Majapahit, Red). Seiring dengan perkembangan, lokasi itu dibersihkan. Dan sangat jelas bahwa lokasi itu merupakan benteng pertahanan. “Dahulu ada tembok keliling,” katanya. Dari tempat itu, banyak ditemukan benda-benda bersejarah warisan dari Majapahit. Seperti tombak yang berdiri dengan sudut 45 derajat kemudian keris lekuk sembilan ditemukan Mat Salam pada 1958, batu lempeng yang ditemukan berjarak 500 meter dari lokasi pada 1961. Selain itu, lumpang ukuran besar ditemukan 150 meter dari pusat situs pada 1991, 1992, dan 1994. Dan, pada 1995 ditemukan batu akik warna merah. Selain itu beberapa kotak, uang logam mata uang China. Bahkan dari informasi di lokasi tersebut masih tersimpan beberapa senjata pusaka. Di antaranya pedang Kongkam Pamor Kencono yang menjadi senjata Brawijaya V, bendera Merah Putih sebagai simbol kejayaan Majapahit, mahkota raja, Bokor Kencono, dan beberapa peti senjata. Itu terlihat ada kesamaan dari peningggalan yang ada di Trowulan, Mojokerto. Selain itu dari bentuk prakiraan bangunan, semua mirip dengan arsitek khas Majapahit. Di dalam beteng itu, terdapat tempat pemujaan, podium, gapura, dan kebun kelapa. Dan ciri yang tidak bisa hilang adalah kelapa bercabang dua dan tiga. “Jika dijumlah, hasilnya lima dan itu merupakan Bhineka Tunggal Ika yang disimbolkan dengan Pancasila. Ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Meski hanya sebatas pelataran, namun sampai saat ini daerah tersebut masih banyak dikunjungi orang. Penemuan benda peninggalan purbakala di Dusun Jegles, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri menggemparkan warga sekitar. Pasalnya, warga meyakini benda tersebut merupakan Lingga Yoni peninggalan Kerajaan Majapahit dan merupakan lambang kesuburan. enda bersejarah tersebut berbentuk batu yang menyerupai lesung dengan lubang di tengahnya. Tak jauh dari benda tersebut, juga ditemukan sebuah alat penumbuk yang telah terpecah. edua benda itu ditemukan warga desa setempat saat melakukan penggalian tanah sebagai bahan baku pembuatan batu bata. Bukan hanya lesung dengan alat tumbuk yang ditemukan, namun sebuah benda menyerupai tempayan tumpuk yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan pertama. Namun sayang, benda menyerupai tempayan tumpuk tersebut sudah dalam kondisi pecah sehingga sulit untuk dikenali.

Trackback from your site.

Leave a comment


× 6 = eighteen

You might also likeclose